Latar Belakang

Selama ini,masih ada stigma/pandangan masyarakat yang mengganggap bahwapenyakit TBC adalah penyakit yang menjijikkan, kumuh, pada masyarakat miskin, sulit disembuhkan, mudah menular, pengobatan lama. Stigma/ pandangan tersebut menyebabkan masyarakat mempunyai kesan malu mempunyai penyakit TBC, menyembunyikan, tidak mau periksa, bahkan enggan berobat jika sudah mendapatkan diagnosa bahwa dirinya atau keluarganya berpenyakit TBC. Stigma tersebut tidak sepenuhnya salah karena penyakit TBC memang panyakit yang berhubungan dengan batuk yang berkepanjangan, tubuh yang kekurangan asupan gizi, penyakit penyerta, mudah menular dan memerlukan perawatan dan pengobatan yang relatif lama. Apalagi jika  ditambah adanya putus pengobatan

Kemudahan masyarakat untuk mendapatkan obat bebas ditambah tingginya kebiasaan masyarakat untuk swa medikasi/atau mencari obat sendiri/mengobati sendiri penyakit-penyakit yang dirasa ringan seperti penyakit batuk, menyebabkan tingginya rentan obat, dan tidak terdiagnosanya penyakit TBC.

Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan strata pertama baik untuk kesehatan perorangan maupun kesehatan masyarakat puskesmas mempunyai program dan kegiatan untuk menanggulangi peyakit menular, salah satunya adalah TBC. Puskesmas Pleret mempunyai wilayah binaan yang meliputi 1 kecamatan yang terdiri dari 5 desa, berdasarkan data, angka TBC cukup tinggi, dan sampai tahun 2015 sudah ada 3 orang petugas puskesmas yang terkena penyakit TBC.

Hal-hal seperti di atas itulah, mendorong Puskesmas Pleret untuk menciptakan satu program yang bertujuan untuk mengubah stigma masyaraat tentang penyakit TBC sekaligus berbagai upaya penanggulangannya dengan nama program“KRIPEK PARU”

 

Pendekatan Strategis

  1. Adanya kesan bahwa istilah TBC adalah penyakit tidak enak, kumuh, menjijikan, banyaknya penderita TBC di Puskesmas Pleret, adanya kasus TB MDR, adanya kasus PKTB pada anak yang terkait dengan gizi buruk, dan 2 orang petugas Puskesmas Pleret tertular penyakit TBC, sehingga perlu dilakukan upaya penanggulangan TBC yang dimulai dari perubahan kesan/pandangan/stigma tentang penyakit TBC menjadi penyakit yang harus ditanggulangi, diobati dan bisa disembuhkan.
  2. Pendekatan yang dilakukan adalah
  3. pelaksanaan program KRIPEK PARU yang berasal dari singkatan Kita perangi Penyakit Paru,
  4. pemisahan pasien dengan keluhan batuk dengan pasien umum yang lain,
  5. mempercepat waktu tunggu pasien keluhan batuk/TBC di puskesmas,
  6. meminimalkan penularan, membentuk wadah/ forum masyarakat dalam penanggulangan TBC
  7. Program “KRIPEK PARU” memiliki kegiatan-kegiatan yang merupakan penjabaran dari pendekatan dan strategi penanggulangan TBC di Puskesmas Pleret yaitu :
  8. Pembuatan Klinik Batuk khusus untuk pasien dengan keluhan batuk, dengan sistem “one stop servise” dimana setelah pasien mendaftar dengan format khusus, dipersilakan mengambil masker dan menunggu di ruang tunggu klinik batuk. Selanjutnya pasien akan diperiksa, diberikan terapi dan obat di dalam ruang klinik batuk, lalu pulang.
  9. Pembuatan Ruang TB MDR
  10. Memisahkan ruang pemeriksaan MTBS dari ruang pemeriksaan umum
  11. Menyediakan masker bagi pasien keluhan batuk
  12. Memisahkan pengecatan dan pengeluaran sputum dari ruang laboratorium
  13. Melaksanakan program penanggulangan infeksi khususnya “air born desease”
  14. Membentuk forum penanggulangan TBC tingkat kecamatan dan mengadakan pertemuan secara rutin.

 

Pelaksanaan dan Penerapan

  1. Langkah-langkah kegiatan yang ditempuh :
  2. Koordinasi internal, antara Kepala Puskesmas, Tim Peningkatan Mutu Puskesmas dan jajaran pelaksana Penanggulangan Penyakit, dokter, perawat, bidan
  3. Sosialisasi rencana program “ KRIPEK PARU”.
  4. Studi lapangan ke ruang-ruang pusksmas.
  5. Koordinasi pembuatan klinik batuk, ruang MTBS, ruang TB MDR, tempat pengecatan sputum
  6. Sosialisasi kepada pengunjung puskesmas.
  7. Pertemuan koordinasi dengan lintas sektor terkait, jaringan dan jejaring puskesmas
  8. Stakeholder
  9. Kepala Puskesmas,
  10. Tim Peningkatan Mutu dan Keselamatan pasien,
  11. Ka Sub Bag tata usaha
  12. Bendahara,
  13. Programer TB
  14. Lintas sektor
  15. Jaringan Puskesmas
  16. Jejaring fasyankes
  17. Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul
  18. Sumber Daya
  19. SDM
  20. Anggaran belanja barang dan jasa
  21. Kemitraan dengan jejaring
  22. Out put
  23. Stigma terhadap penyakit TBC berubah menjadi baik
  24. Resiko Penularan penyakit TBC berkurang
  25. Penderita TBC tertangani dan terobati sampai sembuh
  26. Jejaring penanggulangan TBC terbentuk dan kemitraan berjalan lancar
  27. Monitoring dan evaluasi
    1. Pencatatan dan pelaporan penanggulangan kasus TB
    2. Pencatatan dan pelaporan penemuan kasus baru TB
    3. Pertemuan rutin internal dan eksternal
  28. Kendala
  29. Perlu waktu lama untuk dapat melihat hasilnya
  30. Perlu koordinasi secara rutin
  31. Perlu pencermatan, ketelitian dan kesabaran dalam pencatatan dan pelaporan kasus

 

Dampak Sebelum dan Sesudah Program Inovasi

  1. Sebelumprogram :
  2. Resiko penularan TBC tinggi, tidak ada pembedaan pasien dengan air born desease dengan pasien umum lainnya, ruang tunggu pemeriksaan membaur antara penyakit non infeksi, infeksi, kunjungan sehat.
  3. Tingginya penderita TB, rendahnya penemuan kasus TB Paru baru
  4. Resiko penularan penyakit TB pada petugas dan pengunjung laboratorium tinggi
  5. Resiko penularan penyakit TB pada petugas puskesmas tinggi
  6. Sesudah adanya inovasi :
  7. Resiko penularan TBC menurun, ada pemisahan pasien dengan air born desease dengan pasien umum lainnya, ruang tunggu pemeriksaan dibuat terpisah, ruang pemeriksaan terpisah antara penyakit non infeksi, infeksi, dan kunjungan sehat (ibu hamil, imunisasi).
  8. Terpantaunya penderita TB, meningkatnya penemuan kasus TB Paru baru dengan skrining pasien keluhan batuk lebih 2 minggu harus diperiksa BTA
  9. Menurunnya resiko penularan penyakit TB pada petugas dan pengunjung laboratorium tinggi karena pemeriksaan dan pengecatan sputum BTA terpisah dan berada di luar gedung
  10. Menurunnya resiko penularan penyakit TB pada petugas puskesmas

 

Keberlanjutan

Program “KRIPEK PARU” hanya memerlukan tehnologi tepat guna berupa monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan, serta perencanaan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik sehingga sangat mungkin untuk dapat dilanjutkan. Program ini juga mudah diterapkan oleh puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan yang lain. Dampak yang dapat diberikan oleh program ini adalah angka kesembuhan TBC meningkat, Drop Out pengobatan TBC rendah.

Program TBC adalah program yang memerlukan keseriusan dan kecermatan dalam pelaksanaannya serta membutuhkan dukungan berbagai pihak baik bidang kesehatan maupun bidang yang lain. Keberhasilan program ini akan mendukung keberhasilan ekonomi dengan meningkatnya produktifitas  penderita TBC dan pengurangan biaya pengobatan.