Latar belakang

Pengobatan tradisional telah berkembang secara luas di banyak negara dan semakin populer. Di berbagai negara, obat tradisional bahkan telah dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan, terutama dalam pelayanan kesehatan strata pertama. Negara negara maju, yang sistem pelayanan kesehatannya didominasi pengobatan konvensional, dewasa ini juga menerima keberadaan pengobatan tradisional, walaupun mereka menyebutnya dengan pengobatan komplementer/alternatif (complementary and alternative medicine), misalnya Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Pengobatan tradisional juga banyak dipraktikkan di berbagai negara di Asia, misalnya Cina, Korea, India, Jepang, termasuk Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat dan ramuan jamu dari berbagai suku yang tersebar di berbagai wilayah indonesia, mulai Sabang sampai Merauke. Jamu adalah warisan leluhur bangsa yang telah dimanfaatkan secara turun temurun untuk pengobatan dan pemeliharaan kesehatan.

Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2010, menunjukkan bahwa 49,53% penduduk Indonesia menggunakan jamu baik untuk menjaga kesehatan maupun untuk pengobatan karena sakit. Dari penduduk yang mengkonsumsi jamu, sebanyak 95,6% menyatakan merasakan manfaat minum jamu. Hasil Riskesdas tahun 2010 juga menunjukkan bahwa dari masyarakat yang mengkonsumsi jamu, 55,3% mengkomsumsi jamu dalam bentuk cairan (infusum), sementara sisanya (44,7%) mengkonsumsi jamu dalam bentuk serbuk, rajangan, dan pil/kapsul/ tablet (Badan Litbang Kesehatan, 2010).

Jamu merupakan warisan turun temurun kearifan lokal masyarakat Indonesia untuk memelihara kesehatan dan menyembuhkan penyakit. Namun demikian, sebagai pengobatan tradisional, jamu masih dianggap kekurangan bukti ilmiah dalam hal khasiat dan keamanan. Di pihak lain, terdapat tuntutan yang tinggi untuk menggunakan jamu dalam pelayanan kesehatan, termasuk arahan Presiden Indonesia untuk mengangkat jamu sebagai alternatif terapi pada pelayanan kesehatan.

Puskesmas Pleret merupakan satu dari 27 Puskesmas di kabupaten Bantul terletak di Kecamatan Pleret, kurang lebih 10 km sebelah timur laut Kota Kabupaten Bantul. Tahun 2016 terdapat 63 penyehat tradisional di wilayah kecamatan Pleret terdiri dari 7 dengan keterampilan (terapi batu, gurah, lintah dll), 2 pijat ramuan, 55 pijat ( 18 dukun bayi, 36 pijat umum ).Berdasarkan data-data tersebut maka puskesmas Pleret membuat sebuah inovasi JAMUKU merupakan pengenalan minuman jamu kepada pengguna pelayanan di Puskesmas Pleret setiap hari Rabu.

Tujuan

  1. Tujuan umum:

Supaya masyarakat mengenal dan membangkitkan (kembali) budaya minum jamu warisan nenek moyang.

  1. Tujuan Khusus
    1. Masyarakat mengetahui rasa jamu
    2. Mengetahui manfaat jamu
    3. Mengetahui entuk tanamannya dan sediaan kering bahan-bahan untuk pembuatan jamu
    4. Mengetahui resep-resep jamu

 

Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan

Kegiatan pokok dalam program Jamuku adalah pengenalan minuman jamu kepada pengguna pelayanan di Puskesmas Pleret. Setiap hari Rabu diberikan minuman jamu di Puskesmas. Jamu berasal dari masyarakat yang termasuk dalam pembinaan yankestrad Puskesmas Pleret. Selain itu juga diadakan :

  • Sosialisasi singkat tentang pogram Jamuku dan yankestrad
  • Pengunjung bisa melihat tanaman jamu dan sediaan kering/ simplisia
  • Sosialisasi resep dimana pengunjung bisa mencatat resep.

 

Cara melaksanakan kegiatan

Dalam pelaksanaan upaya kegiatan program Jamuku perlu dilaksanakan hal-hal sebagai berikut:

  • Koordinasi dan Advokasi lintas sektoral, Tokoh Agama dan Tokoh Masarakat
  • Koordinasi dengan Penyehat Tradisional

Sasaran

Sasaran program dalam kegiatan ini adalah masyarakat di wilayah Puskesmas Pleret

Jadwal pelaksanaan kegiatan

  1. Minuman jamu gratis ke pengunjung setiap hari Rabu
  2. Pemeliharaan contoh tanaman obat
  3. Pembuatan simplisia
  4. Pertemuan dan Koordinasi dengan Penyehat Tradisional

 

Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan

Setiap kegiatan yang tercantum dalam jadwal pelaksanaan dievaluasi. Evaluasi dilakukan secara bersama-sama lintas peogram dan lintas sektor terkait. Cara membuat laporan evaluasi dilakukan dua kali yaitu pada saat proses kegiatan dan di akhir kegiatan. Laporan tersebut selanjutnya disampaikan kepada kepala Puskesmas  selanjutnya diteruskan ke Dinas kesehatan Kabupaten Bantul untuk peningkatan kinerja selanjutnya.

Pembiayaan

Pembiayaan program ini berasal dari dana Pusat dalam bentuk BOK